Khazzanah Tour Travel Umrah dan Haji Plus Jakarta: Sejarah Masjid Nabawi dari Masa Rasulullah SAW Sampai Saat Ini

Pt. Khazzanah Al-Anshary
paket-umroh-ramadhan-2016
089607592213
081315885454 (WA)

Head Office : Jl Terusan I Gusti Ngurai Rai No. 6 Pondok Kopi Duren Sawit Jak - Tim. 13460
~ assalaamu'alaikum Wr. Wb., Calon jamaah yang dimuliakan Allah, Travel Umrah Khazzanah telah membuka pendaftaran umrah Promo tahun 2018. Biaya Umrah Promo Hanya Rp. 19 Juta ( All in ). Dengan Membayar Dp 8 juta, Anda telah terdaftar sebagai jamaah Umrah Khazzanah Tour. Selain itu, Travel Khazzanah melayani pendaftaran Umrah bulan November, Desember, dan Umrah Rombongan. Terima kasih/Syukron/Matur Suwun/Hatur Nuhun. Wassalamu'alaikum Wr. Wb., Khazzanah Tour & Travel Indonesia. ~

Sejarah Masjid Nabawi dari Masa Rasulullah SAW Sampai Saat Ini

MASJID NABAWI

A. Sejarah Berdirinya
Sewaktu Rosululloh SAW memasuki kota Madinah, kaum Anshar  yang mengelu-elukan beliau serta menawarkan rumah untuk beristirahat. Namun dengan bijaksananya, Rasululloh SAW menjawab : “Biarkanlah unta ini jalan, karena ia diperintah Allah”. Tanpa disangka, unta itu berhenti di depan rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Akhirnya Nabi Muhammad dipersilakan  tinggal di rumahnya.

Setelah beberapa bulan tinggal di rumah Abu Ayyub Al-Anshari, Nabi mendirikan masjid di atas sebidang tanah tanah wakaf milik As’ad bin Zurrah dan anak yatim, Sahal dan Suhail (anak Amir bin Amarah) dibawah asuhan Mu’adz bin Atrah. Masjid ini dibangun secara gotong royong dari mulai awal pembangunan sampai selesai. Namun peletakan batu pertama pembangunan Masjid Nabawi dilakukan oleh Rosululloh SAW, selanjutnya oleh sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Tholib. 

Bentuk atau design Masjid Nabawi Madinah dibangun sangat sederhana sekali. Mulanya masjid yang mulia ini terdiri atas 3 pintu, yaitu : pintu kanan, pintu kiri, dan pintu belakang. Panjangnya hanya 70 hasta dan lebarnya 60 hasta. Tinggi pagarnya kurang lebih 2 meter berasal dari batu tanah. Tiang-tiangnya dari batang pohon kurma. Atapnya dari pelepah pohon kurma. Halamannya ditutup dengan batu-batu kecil. Lantainya tanpa tikar dan untuk penerangan pada malam hari, menggunakan pelepah kurma yang kering dan dibakar.
Masjid Nabawi dibangun pada tahun pertama Hijriyah dan asal muasalnya kiblat masjid ini menghadap Baitul Maqdis.

B. Perbaikan dan Perluasan Masjid Nabawi
1. Pada tahun ke-4 Hijriyah, masjid diperbaiki dengan lantai dari batu bata. Setelah kiblat dipindahkan dari Baitul Maqdis ke arah Ka’bah, pintu belakang dirubah jadi mihrab.
2. Tahun ke-7 H atau sesudah perang Khaibar luasnya diperluas menjadi 50 meter untuk ukuran panjang dan lebarnya. 
3. Tahun ke-17 H., pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab diperluas lagi 5 meter untuk sebelah barat dan 15 meter untuk sebelah utara.Pada tahun ke-21 H.,mengalami perubahan, yaitu tiang-tiang pohon kurma pada waktu pertama kali dibangun  diganti, dasarnya dibuat dari batu dan pintunya ditambah menjadi 6 buah, yaitu 2 pintu di sebelah kanan dan kiri, serta 2 pintu di belakang.
4. Pada tahun ke-29 H, di zaman pemerintahan Khalifah Usman bin Affan diperluas lagi atas permohonan penduduk Madinah. Mengingat bertambahnya penduduk dan banyaknya yang sholat berjamaah. Pada masa ini perubahannya terletak pada dindingnya yang terbuat dari beton, pondamennya dari timah, dan dinding di sebelah luar dihias dengan ukiran sejenis seng.
5. Di tahun 88 H, pada zaman pemerintahan Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz menjabat Gubernur Madinah, diadakan perbaikan, yaitu lantai masjid diganti dengan batu marmer, lalu makam Rasulullah SAW dan kedua sahabat-Nya dimasukkan ke dalam bangunan masjid dan didirikan pula 4 buah menara. Dindingnya dihias dari sejenis seng dilapisi dengan emas.
6. Pada tahun 161 H, di masa pemerintahan Mahdi Al-Abbasi, sebelah selatan Masjid Nabawi diperluas  sesuai bangunan masjid yang telah ada.
7. Pada tahun 654 H, dan bertepatan dengan hari Jum’at awal Ramadhan, Masjid Nabawi terbakar yang mengakibatkan kerusakan yang tidak sedikit. Maka Khalifah Al-Mu’tasim Billah memerintahkan untuk segera membangun kembali masjid ini.
8. Pada tahun 886 H, akibat tersambar petir, terjadi kebakaran Masjid Nabawi untuk yang kedua kalinya.  Besarnya kobaran api pada kebakaran kali ini, mengakibatkan seluruh bangunan Masjid Nabawi hangus terbakar, terkecuali makam Rosululloh SAW. Lalu ada donatur dari Mesir, Al-Asyraf Bey, yang memberi bantuan 60.000 pon emas untuk rahabilitasi  masjid yang mulia ini.
9. Tahun 980 H, di masa pemerintahan Sultan Salim, beliau memerintahkan agar dibangun sebuah mihrab yang terletak di sebelah mimbar.
10. Tahun 1233 H, pada masa pemerintahan Sultan Mahmud, dibangunlah Kubah Hijau (Kubbah Al-Khodro’) yang kita saksikan hingga kini jika Anda ke tanah suci untuk haji maupun umroh.
11. Tahun 1265 H., di masa pemerintahan Sultan Abdul Majid, beliau memerintahkan perbaikan dan perubahan yang paling besar dalam sejarah pembangunan Masjid Nabawi sehingga memakan waktu 12 tahun. Dalam pembangunan ini dinding-dinding dan tiang-tiangnya dihiasi dengan ukiran-ukiran dan tulisan-tulisan indah yang terdapat di dinding dalam sebelah selatan ditulis oleh seorang penulis yang terkenal, bernama Abdullah Bey Zuhdi, yang berisikan surat Al-Fath, Asmaul Husna, nama Nabi Muhammad SAW dan sebagainya.
Pembangunan tersebut diselesaikan tahun 1277 H. Hasil pembangunannya sampai sekarang masih utuh, demikian juga ukiran-ukiran dan tulisan yang indah masih tetap ada. Bangunan Sultan Abdul Majid ini antara lain Bab Rahmah. Untuk mengingat jasa beliau daalam usahanya memperbaharui bangunan Masjid Nabawi, maka salah satu pintu masjid yang terletak di muka (tengah sebelah utara) diberi nama bab Al-Majidi.
12. Pada tanggal 12 Sya’ban tahun 1348 H., Raja Abdul Aziz bin Su’ud mulai memperbaiki lantainya dan memperluas masjid. Pemerintah Mesir ikut membantu perbaikan masjid tersebut. Mengingat jamaah haji semakin meningkat, apalagi setelah perang dunia ke II banyak negara-negara yang dahulu dijajah kini menjadi negara merdeka, ditambah lagi perjalanan antar Negara telah lancar dan cepat, maka sesudah pembangunan yang diadakan Sultan Abdul Majid, Raja Abdul Aziz bin Su’ud memperbesar dan memperbaharui Masjid Nabawi Madinah tersebut. Luas masjid ditambah  6024 M2 dengan biaya sebesar SR 300.000.000.

Data perkembangan luas Masjid Nabawi mulai dari zaman Rosululloh SAW sebagai berikut :
- Luas masjid waktu dibangun oleh Rasululloh SAW 2475 M2
- Tambahan Khalifah Umar bin Khattab 1100 M2
- Tambahan Khalifah Usman bin Affan 496 M2
- Tambahan Khalifah Walid bin Mahdi 2450 M2
- Tambahan  Asyraf Al-Qait Bey 120 M2
- Tambahan Sultan Abdul Majid Al-Usmani 1293 M2
- Tambahan Raja Abdul Aziz  6293 M2

Jumlah pintu yang dibuat sampai dengan masa Raja Abdul Aziz ialah :
a. Bab Su’ud
b. Bab Abdul Aziz
c. Bab Abdul Majid
d. Bab Abu Bakar Ash-Shiddiq
e. Bab Umar bin Khattab
f. Bab Usman bin Affan
g. Babus Salam
h. Bab Rahman
i. Babun Nisa’
j. Bab Jibril

Setiap pintu tingginya 6 m dan lebar 3,2 m dibuat dari kayu dihiasi ukiran dari tembaga kuning model Arab. Jumlah tiang sebanyak 232 buah, masing-masing tingginya 5m. Didirikan 2 buah menara terletak di muka masjid tingginya masing-masing 70 m
13. Perluasan pada masa Raja Faisal bin Abdul Aziz Al-Saud seluas 40.440 M2.
14. Perluasan pada masa Raja Halid bin Abdul Aziz Al-Saud dengan penambahan luas masjid yang mencapai 43.0000 M2.
15. Perluasan pada masa Raja Fahd bin Abdul Aziz Al-Saud dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Raja Fahd pada tanggal 9 Muharram 1406 H., sehingga luas seluruh bangunan masjid sekarang ini menjadi 165.000 M2.
Penambahan menara dari 4 buah menjadi 10 buah dengan tinggi masing-masing menara : 4 buah menara setinggi 72 m dan 6 menara lainnya setinggi 92 m. Menambah satu pintu utama  dan 65 pintu lainnya sehingga keseluruhannya berjumlah 95 pintu (termasuk pintu atas).

Bangunan Masjid Nabawi yang ada sekarang ini ditambah dengan halamannya sudah mencakupi keseluruhan luas kota Madinah pada zaman Nabi SAW, sehingga kuburan masjid.

Sementara itu masjid bagian belakang di atas bab Al-Majidi dari sebelah barat memanjang  ke timur telah dibangun bertingkat dua yang digunakan sebagai perkantoran, perpustakaan, gudang peralatan masjid dan selebihnya dapat digunakan sebagai tempat shalat apabila jamaah terlalu padat. Di dalam masjid diberi sketsel yang dapat diangkat-angkat memanjang dari belakang makam Rasul sampai ke pintu utama di sebelah utara. Di sebelah kanan untuk jamaah wanita. Masjid Nabawi sekarang ini sudah seluruhnya  ber-AC (full AC).

C. Waktu Ziarah ke Makam Rasul dan Raudhah
Masjid Nabawi dibuka pada jam 03.00-22.00 Waktu Saudi Arabia (WSA), memang berbeda dengan Masjidil Haram mekkah yang dibuka 24 jam. Sedang bagi jamaah wanita yang akan ziarah makam rosul dan raudhah dibagi menjadi 3 waktu, diantaranya :  setelah sholat shubuh sampai jam 10.00 WSA, setelah sholat dhuhur sampai jam 15.00 WSA, dan setelah sholat ‘Isya. Adapun tempatnya terpisah dengan jamaah laki-laki yang dibatasi dengan sekat/pembatas yang dipasang khusus ketika jamaah wanita berziarah

D. Tiang-Tiang Bersejarah di Masjid Nabawi

1. Tiang Aisyah
Tiang ini berada di tengah-tengah roudhoh sebelah barat makam Nabi. Di tempat ini, Nabi pernah mengimami sholat jamaah kurang lebih 3 bulan setelah peralihan kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram Mekkah.

2. Tiang Al-Wufud
Tiang ini juga dikenal dengan nama Tiang Abi Lubabah dan Tiang At-Taubah. Konon ceritanya ada sahabat Nabi yang merasa berdosa atas kesalahan yang dibuatnya karena telah menghukum orang Yahudi dari Bani Nadzir. Karena kesalahnnya tesebut, Abi Lubabah datang ke tiang ini dan mengikat dirinya sendiri pada tiang tesebut dan dia berjanji tidak akan melepaskan dirinya kecuali Allah telah menerima taubatnya. Sampai akhirnya tutun surah An-Nisa’ ayat 65-67 yang menjelaskan bahwa taubatnya telah diterima dan Rasulullah sendiri yang datang untuk melepasnya.

3. Tiang Al-Muhlakah
Disebut tiang Al-Muhlakah karena Rasul melihat dahak atau kotoran melekat di tiang itu. Lalu Nabi memerintahkan seorang sahabat-Nya untuk membersihkannya, bahkan sahabat Nabi memberi minyak wangi pada tiang tersebut dengan minyak Huluk. Nabi merasa senang atas kinerja sahabat-Nya, dan ini merupakan benda pertama di Masjid Nabawi Madinah yang diberi minyak wangi.

4. Tiang As-Sarir
Dinamakan demikian karena  di tiang ini terdapat tempat tidur Nabi yang terbuat dari anyaman daun kurmadan pelepahnya.  Tiang ini berada di sebelah timur Tiang At-Taubah dan merupakan tempat Nabi untuk ber-I’tikaf. 

5. Tiang Al-Haris atau Al-Muhris
Dinamakan Tiang Al-Haris atau tiang pelayan. Karena di tiang ini Sayyidina Ali bin Abi Tholib menanti panggilan dan perintah Rosululloh dalam membantu kepentingan Nabi. Karena itulah tiang ini lebih dikenal dengan Tiang Ali bin Abi Tholib. Tiang ini berada di sebelah utara Tiang At-Taubah.

E. Mihrab
Pada mulanya Masjid Nabawi tidak memiliki mihrab. Namun semenjak Rasulullah SAW menerima perintah memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis di Yerussalem ke Masjidil Haram di Mekkah, maka dibangunlah mihram yang pertama pada tanggal 15 Sya’ban tahun ke-2 Hijriyah. Hingga sekarang ini, jumlah Mihrab seluruhnya ada 5 buah, diantaranya :

1. Mihrab Nabawi, terletak di sebelah timur mimbar. Tempat ini mula-mula dipakai untuk imam waktu beliau memimpin shalat. Mihrab ini hadiah dari Asyraf Al-Qait Bey dari Mesir.
2. Mihrab Sulaiman, terletak di sebelah kiri mimbar, bentuknya sama dengan bentuk mihrab Nabawi. Mihrab ini dibangun pada tahun 938 H dan merupakan hadiah dari Sultan bin Salim dari Turki.
3. Mihrab Usmani, terletak di tengah-tengah dinding arah kiblat yang sekarang ini digunakan imam memimpin shalat berjamaah.
4. Mihrab Tahajjud, letaknya di sebelah utara jendela makam Rasulullah SAW. Bneruknya lebih kecil dari Mihrab Nabawi maupun Mihrab Sulaiman. Di tempat ini Rosululloh SAW sering melakukan sholat tahajjud, dan mihrab ini mengalami perubahan pada zaman Sultan Abdul Majid.

Afiliasi Khazzanah Tour & Travel

turkish airlinelogo etihadlogo emirateslogo garuda
saudia airlinelogo air asialogo iatalogo asitalogo himpuh
Back To Top