Khazzanah Tour Travel Umrah dan Haji Plus Jakarta: Arti Mahram Dalam Islam, Berkaitan Dengan Pelaksanaan Haji dan Umroh

Pt. Galih Tunggal Perkasa
paket-umroh-ramadhan-2016
089607592213 - 081315885454 (WA)

Head Office : Jl Terusan I Gusti Ngurai Rai No. 6 Pondok Kopi Duren Sawit Jak - Tim. 13460
~ assalaamu'alaikum Wr. Wb., Calon jamaah yang dimuliakan Allah, Travel Umrah Khazzanah telah membuka pendaftaran umrah Promo tahun 2017. Biaya Umrah Promo Hanya Rp. 19 Juta ( All in ). Dengan Membayar Dp 8 juta, Anda telah terdaftar sebagai jamaah Umrah Khazzanah Tour. Selain itu, Travel Khazzanah melayani pendaftaran Umrah bulan November, Desember, dan Umrah Rombongan. Terima kasih/Syukron/Matur Suwun/Hatur Nuhun. Wassalamu'alaikum Wr. Wb., Khazzanah Tour & Travel Indonesia. ~

Arti Mahram Dalam Islam, Berkaitan Dengan Pelaksanaan Haji dan Umroh

MAHRAM


Pengertian Mahram


Mahram atau mahrom berarti orang yang haram untuk dinikahi karena sebab keturunan, persusuan, dan pernikahan dalam syari’at Islam. Sedangkan kata mahram (mahramun) yaitu orang-orang yang berlawanan jenis dengan kita, namun haram (tidak boleh) dinikahi baik untuk sementara atau untuk selamanya. Namun kita diperbolehkan bepergian dan berjabat tangan dengannya kecuali menikah.


Banyak dalil yang menyebutkan bahwa tidak diperkenankan para wanita untuk keluar rumah lebih dari tiga hari tanpa ditemani oleh mahram atau suaminya.
Dalam sebuah hadist disebutkan,

“Tidak halal bagi wanita muslim bepergian lebih dari tiga hari kecuali bersama mahramnya”. (HR. Muttafaq  ‘alaihi).

Perbedaan Mahram dan Muhrim

“Eei  eeei eeeei, ga’ boleh bersentuhan, ga’ boleh berpengangan, kan kita bukan muhrim-nya!!!”

Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar ucapan tersebut. Bahkan mungkin sering mendengarnya dalam pergaulan sehari-hari, baik di lingkungan rumah, tempat kerja, kampus, dan sebagainya. Sebeneranya apa arti kata ucapan tersebut. Apakah sudah pas dengan apa yang dimaksud? Menurut saya ungkapan itu salah karena banyak sekali orang yang salah mengartikan arti kata Muhrim.

Memang banyak sekali orang yang memakai kata MUHRIM untuk menyebut orang yang tidak boleh dinikahi. Ternyata, tidak semua yang dianggap orang  benar itu benar artinya walaupun tujuannnya ke arah yang benar. Karena kata MUHRIM itu mempunyai arti orang yang sedang ber-ihrom untuk umroh atau haji.

Coba kita tilik arti kata MUHRIM. Jika ditinjau dari segi bahasa, MUHRIM berasal dari kata bahasa Arab, Muhrimun (huruf mim berharokat dhommah) yang bermakna orang yang sedang ber-ihrom dalam pelaksanaan umroh atau haji. Sedangkan MAHROM berasal dari kata Mahromun (dengan huruf mim berharokat fathah) yang bermakna orang yang haram dinikahi (baik laki-laki atau perempuan). Dari penjabaran dari 2 (dua) kata tersebut, telah jelas arti dan maksud tujuannya dalam penggunaan dua kata tersebut. Semoga kita terhindar dari salah kaprah yang selama ini kita ucapkan dan Anda dengar.

Perbedaan Pendapat Para Ulama Mengenai Mahram

Dalam hal atau bab mahrom untuk umroh atau haji, para ulama mempunyai pendapat yang berbeda. Ada yang mutlak melarang dan mengharuskan didampingi mahram.  Sebagaimana diterangkan di sebuah hadis, dari Ibnu Anas RA berkata bahwa Rosululloh SAW berkhutbah, 

”Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya”. Ada seseorang bertanya, ”Ya Rasulullah SAW, aku tercatat untuk ikut pergi dalam peperangan tertentu namun isteriku bermaksud pergi haji”. Rasulullah SAW bersabda, “Pergilah bersama istrimu untuk pergi haji”. ( HR. Bukhari Muslim dan Ahmad ).

Para ulama berpendapat bahwa hadis di atas adalah semata-mata untuk melindungi keamanan para wanita karena pada masa tersebut tidak ada jaminan keamanan untuk wanita yang bepergian sendiri. Sehingga kehadiran mahram atau suami dianggap sebagai tindakan antisipasi dari ketidakamanan situasi pada masa itu.

Dalam sebuah hadist lainnya, dimana sebagian ulama berpendapat bahwa para wanita boleh pergi haji atau umroh tanpa didampingi oleh mahram-nya. Rasulullah SAW bersabda,

“Wahai Adi, pernahkah kamu ke Hirah?”, Aku menjawab belum tapi hanya mendengar tentangnya. Beliau pun bersabda, “Apabila umurmu panjang, kamu akan melihat wanita bepergian dari kota Hirah berjalan sendirian hingga thawaf di Ka’bah, dengan keadaan tidak merasa takut kecuali hanya kepada Allah saja”. Adi berkata, “Maka akhirnya aku menyaksikan wanita bepergian dari Hirah hingga thawaf di Ka’bah tanpa takut kecuali hanya kepada Allah”. (HR. Bukhari Muslim ).

Dari hadis di atas dapat  disimpulkan, bahwasanya kesertaan mahram untuk wanita yang akan bepergian untuk menunaikan umroh atau haji bukan merupakan syarat yang mutlak alias tidak wajib. Melainkan suatu syarat jika keadaan atau situasi tidak memungkinkan, tidak terjaminnya keamanan, dan kepergiannya dapat menimbulkan fitnah.

Hadist ini didukung oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, dan lain-lain. Bahkan Imam Syafi’i dalam satu pendapat membolehkan wanita didampingi oleh satu atau beberapa wanita saja yang tsiqah. Hal tersebut untuk menjaga keamanan perjalanan dari fitnah.

Al Mawardi dari ulama’ kalangan Syafi’iyyah mengatakan bahwa sebagian dari mazhab Syafi’i berpendapat bila perjalanan tersebut aman dan tidak ada kekhawatiran terjadinya khalwat antara laki-laki dan perempuan, maka para wanita boleh bepergian tanpa didampingi mahramnya bahkan tanpa teman seorang wanita yang tsiqah.

Syarat Mahram Bagi Wanita Saat Umroh dan Haji

Mahram merupakan salah satu persyaratan yang harus disertakan dalam pengajuan visa ke KBSA untuk wanita muda muda (di bawah umur 45 tahun) atau yang belum menikah untuk umroh atau haji. Karena negara ini memiliki aturan yang mengharuskan seorang wanita tidak boleh pergi sendirian dan harus pergi bersama mahram-nya saat umroh atau haji. Hal ini menjadi kendala untuk mereka. Sebagai solusinya, dengan membuat surat mahrom yang biayanya sangat terjangkau saat memilih umroh akhir ramadhan.

Walaupun kelihatannya sepele dan mudah, akan tetapi kalau tidak diatur dengan baik, nantinya akan bisa menimbulkan masalah.  Bisa jadi sang istri tidak ridho, suamniya dijadikan mahrom untuk wanita lain. Atau sang laki-laki tidak ikhlas atau tidak setuju terhadap wanita yang di-mahrom-kan kepada dirinya. Bisa juga si pria yang di-mahrom-kan kepada wanita itu, tidak jadi berangkat umroh karena suatu hal. Atau alasan-alasan lain yang bisa berakibat fatal dengan tertundanya keberangkatan seirang wanita muda yang pergi umroh tidak disertai mahrom-nya sendiri.

Walaupun demikian, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Pemerintah Arab Saudi sendiri telah menetapkan syarat adanya Surat Keterangan Mahram bagi wanita yang berangkat haji atau umroh.

Jenis Mahram

Pengelompokan mahram terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :

1. Mahram Muabbad
        Yang artinya golongan mahram yang tidak boleh dinikahi selamanya, yang terdiri dari :

A. Mahram Karena Keturunan
a. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas, baik jalur laki-laki maupun wanita
b. Anak perempuan (putri), cucu perempuan, dan seterusnya, ke bawah baik dari jalur laki-laki-laki maupun perempuan
c. Saudara perempuan (kakak atau adik), seayah atau seibu
d. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung  
e. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung
f. Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah, baik dari jalur laki-laki maupun wanita
g. Putri saudara laki-laki (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita

B. Mahram Karena Pernikahan
a. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas
b. Istri anak (menantu), istri cucu dan seterusnya ke bawah
c. Ibu mertua, ibunya (nenek) dan seterusnya ke atas
d. Anak perempuan istri dari suami lain (anak tiri)
e. Cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib (anak lelaki istri dari suami lain) 

C. Mahram Karena Sepersusuan
a. Wanita yang menyusui dan ibunya
b. Anak perempuan dari wanita yang menyusui (saudara persusuan)
c. Sodara perempuan dari wanita yang menyusui (bibi persusuan) 
d. Anak perempuan dari anak perempuan dari wanita yang menysusui (anak dari saudara persusuan) 
e. Ibu dari suami dari wanita yang menyusui
f. Sedulur perempuan dari suami dari wanita yang menyusui 
g. Anak perempuan dari anak laki-laki dari wanita yang menyusui (anak dari saudara persusuan)
h. Anak perempuan (dari suami) dari wanita yang menyusui 
i. Istri lain dari suami dari wanita yang menyusui

2.  
a. Adik atau kakak ipar (saudara perempuan dari istri)
b. Bibi (ayah atau ibu mertua) dari istri
c. Istri yang telah bersuami dan istri orang kafir jika ia masuk Islam
d. Wanita yang telah ditalak tiga, maka ia tidak boleh dinikahi oleh suaminya yang dulu sampai ia menjadi istri dari laki-laki lain
e. Wanita musyrik sampai ia masuk Islam
f. Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki ahli kitab atau laki-laki kafir
g. Wanita pezina sampai ia bertaubat dan melakukan istibro’ (pembuktian kosongnya rahim)
h. Wanita yang sedang ihrom sampai ia tahallul
i. Wanita dijadikan istri kelima sedangkan masih memiliki istri yang keempat

Demikian sekilas pengetahuan tentang mahram dan pendapat boleh tidaknya wanita pergi haji dan umroh sendiri. Walaupun dapat melaksanakannya tanpa di dampingi mahram, namun Pemerintah Arab Saudi telah mewajibkan adanya Surat Keterangan Mahram yang dapat diperoleh dengan bantuan dari biro perjalanan yang anda pilih.

Catatan:
Pertama, saudara ipar apakah mahram (muhrim):
Saudara ipar bukan termasuk mahram. bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan agar berhati-hati dalam melakukan pergaunlan bersama ipar. Dalilnya: Ada seorang sahabat yang bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana hukum kakak ipar?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saudara ipar adalah kematian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksud hadis di atas: Interaksi dengan kakak ipar bisa menjadi sebab timbulnya maksiat dan kehancuran. Karena orang bermudah-mudah untuk bebas bergaul dengan iparnya, tanpa ada pengingkaran dari orang lain. Sehingga interaksinya lebih membahayakan daripada berinteraksi dengan orang lain yang tidak memiliki hubungan keluarga. Kondisi semacam ini akan memudahkan mereka untuk terjerumus ke dalam zina.

Kedua, Sepupu bukan mahram
Karena itu, dalam islam kita dibolehkan menikahi sepupu. 

Ketiga, istri paman atau suami bibi, bukan mahram.
Misal: zaid punya paman (Salman), istri Salman bukan mahram bagi Zaid. Atau  Aisyah punya bibi (Siti), suami Siti bukan mahram bagi Aisyah.


Afiliasi Khazzanah Tour & Travel


turkish airline

logo etihad

logo emirates

logo garuda



saudia airline

logo air asia

logo iata

logo asita

logo himpuh

Back To Top